Manufaktur Kunci Penggerakan Sektor Riil
Demikian pula pada sisi produksi, pertumbuhan sektor yang diperdagangan (tradeable sector) seperti Pertanian, Pertambangan dan Manufaktur belum terasa optimal. Dari catatan yang ada, sektor ini hanya tumbuh sebesar rata-rata 4 persen per tahun selama tiga tahun terakhir. Sementara, sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradeable sector) seperti Konstruksi, Keuangan, Transport dan Perdagangan, tumbuh rata-rata sebesar 8 persen per tahun. Kecenderungan ini tentu sangat memprihatinkan. Sektor yang diperdagangan adalah sektor yang dikategorikan sebagai sektor riil dalam perekonomian.
Semenjak krisis pada tahun 1997, pertumbuhan sektor manufaktur nasional cenderung melemah. Hal ini bisa disimak dari angka pertumbuhan yang hanya berkisar antara 3 sampai 5 persen per tahun sejak tahun 2000. Angka ini jauh lebih kecil dari angka pertumbuhan rata-rata sebesar lebih dari 10 persen per tahun pada masa sebelum krisis dari tahun 1970 hingga 1996.
Beberapa alasan melemahnya pertumbuhan sektor manufaktur adalah: pertama, upaya menggairahkan sektor manufaktur masih terkendala pertumbuhan permintaan, baik domestik maupun internasional. Dari sisi domestik, pertumbuhan permintaan untuk barang-barang industri baru saja perlahan bangkit setelah sempat tertekan saat krisis. Begitu juga dari sisi internasional, ekspor manufaktur Indonesia mengalami persaingan yang makin sengit dari banyak negara lain seperti China, India, Vietnam dan Myanmar, yang sama-sama mengandalkan upah buruh murah.
Kedua, pertumbuhan manufaktur juga terhambat oleh masih tinggi kapasitas terpasang yang ada. Banyak perusahaan masih beroperasi menggunakan kapasitas warisan dari investasi pada era sebelum krisis. Tingginya kapasitas di banyak unit-unit produksi manufaktur sebelum krisis terlihat dari rendahnya penggunaan kapasitas pada saat itu, dimana rata-rata perusahaan hanya menggunakan sekitar 60 persen sampai dengan 70 persen kapasitas yang ada. Kapasitas ini hanya akan diperluas bila tingkat permintaan meningkat yang tentunya membutuhkan waktu.
Ketiga, investasi pada sektor manufaktur masih sangat minim. Secara aggregat nasional, tingkat pertumbuhan investasi masih di bawah tingkat pertumbuhan yang ada sebelum krisis. Hal ini disebabkan oleh masih tersedianya kapasitas peningkatan produksi pada banyak perusahaan. Sehingga tidak mengherankan hanya sedikit yang mengambil inisiatif mengembangkan kapasitas produksi yang ada melalui investasi.
Keempat, masih lemahnya fungsi intermediasi perbankan. Tingkat pertumbuhan kredit perbankan sampai tahun 2006 masih di bawah tingkat yang diharapkan, sebesar 20 persen per tahun. Pertumbuhan ini pun lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan kredit konsumtif, bukannya kredit investasi atau modal kerja.
Kelima, selain kesulitan penambahan modal, peningkatan kapasitas industri manufaktur juga terkendala oleh masalah buruh. Iklim ketenagakerjaan yang ada dewasa ini membuat banyak perusahaan harus berhitung dua kali bila hendak memperkerjakan tambahan buruh. Penyebab dari hal ini adalah mahalnya ongkos berupa uang pesangon yang harus ditanggung perusahaan.
Keenam, struktur industri nasional yang masih sangat tidak kompetitif. Sampai saat ini tingkat konsentrasi empat perusahaan (CR4) pada sektor manufaktur masih berkisar antara 50 persen sampai dengan 60 persen, yang mengindikasikan terpusatnya pembentukan output hanya pada empat perusahaan terbesar.
Tingkat konsentrasi manufaktur yang tinggi berakibat buruk baik pada jangka pendek maupun panjang. Jangka pendek, hal ini menyebabkan cepat memanasnya mesin perekonomian yang kemudian mengakibatkan mudahnya terpicu inflasi. Hal ini disebabkan adanya ketergantungan harga dan produksi suatu industri pada kapasitas segelintir perusahaan. Untuk jangka panjang, struktur yang tidak kompetitif menyebabkan sulit masuknya pemain dan investasi baru dalam satu industri, yang berakibat sulitnya menambah kapasitas produksi dalam jangka panjang.
Dari beberapa bulan terakhir terdapat indikasi perbaikan dari beberapa hal yang di atas. Permintaan terhadap produk manufaktur dari dalam negeri, misalnya, telah nampak pulih seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang perlu diwaspadai adalah permintaan untuk ekspor manufaktur. Pertumbuhan ekspor manufaktur ke depan harus tidak lagi sekedar mengandalkan upah buruh murah. Untuk itu, satu strategi ekspor yang terkait dengan industrialisasi harus segera dikembangkan.
Demikian pula, terdapat indikasi kuat adanya perbaikan tingkat pertumbuhan modal dan penyaluran kredit ke sektor manufaktur dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, pemerintah saat ini tengah berupaya memperbaiki kelemahan aturan pesangon dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tersendiri untuk merevisi masalah ini. Diharapkan PP ini bisa menghilangkan kendala yang dirasakan perusahaan untuk menambah pekerja.
Persoalaan akut yang hingga kini masih ada adalah belum kompetitifnya struktur industri nasional. Di beberapa industri terlihat ada perbaikan. Namun secara umum dikatakan, pemerintah belum memiliki langkah sistematik dan integral untuk memperbaiki tingkat kompetitif domestik industri nasional. Persoalan ini adalah persoalan struktural jangka panjang, namun pemecahannya harus dipikir dan dirembukan sesegera mungkin.
Label: umum
Selengkapnya..
Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Benarkah temuan yang dilakukan peneliti IPB tersebut? Kalau benar, berbahayakah Enterobacter Sakazakii tersebut pada bayi atau anak? Bagaiamana hal itu bisa terjadi?









