Jumat, 07 Maret 2008

Manufaktur Kunci Penggerakan Sektor Riil

(Jurnal Nasional, 23/10/2007) Satu hal yang merupakan persoalan pelik perekonomian Indonesia hingga saat ini adalah masih kurang bergairahnya sektor riil. Dari sisi pengeluaran pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi yang ada selama ini lebih banyak dipacu oleh aktivitas konsumsi dan ekspor. Sementara tingkat investasi hingga akhir tahun 2006 masih tersendat.

Demikian pula pada sisi produksi, pertumbuhan sektor yang diperdagangan (tradeable sector) seperti Pertanian, Pertambangan dan Manufaktur belum terasa optimal. Dari catatan yang ada, sektor ini hanya tumbuh sebesar rata-rata 4 persen per tahun selama tiga tahun terakhir. Sementara, sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradeable sector) seperti Konstruksi, Keuangan, Transport dan Perdagangan, tumbuh rata-rata sebesar 8 persen per tahun. Kecenderungan ini tentu sangat memprihatinkan. Sektor yang diperdagangan adalah sektor yang dikategorikan sebagai sektor riil dalam perekonomian.

Semenjak krisis pada tahun 1997, pertumbuhan sektor manufaktur nasional cenderung melemah. Hal ini bisa disimak dari angka pertumbuhan yang hanya berkisar antara 3 sampai 5 persen per tahun sejak tahun 2000. Angka ini jauh lebih kecil dari angka pertumbuhan rata-rata sebesar lebih dari 10 persen per tahun pada masa sebelum krisis dari tahun 1970 hingga 1996.


Beberapa alasan melemahnya pertumbuhan sektor manufaktur adalah: pertama, upaya menggairahkan sektor manufaktur masih terkendala pertumbuhan permintaan, baik domestik maupun internasional. Dari sisi domestik, pertumbuhan permintaan untuk barang-barang industri baru saja perlahan bangkit setelah sempat tertekan saat krisis. Begitu juga dari sisi internasional, ekspor manufaktur Indonesia mengalami persaingan yang makin sengit dari banyak negara lain seperti China, India, Vietnam dan Myanmar, yang sama-sama mengandalkan upah buruh murah.

Kedua, pertumbuhan manufaktur juga terhambat oleh masih tinggi kapasitas terpasang yang ada. Banyak perusahaan masih beroperasi menggunakan kapasitas warisan dari investasi pada era sebelum krisis. Tingginya kapasitas di banyak unit-unit produksi manufaktur sebelum krisis terlihat dari rendahnya penggunaan kapasitas pada saat itu, dimana rata-rata perusahaan hanya menggunakan sekitar 60 persen sampai dengan 70 persen kapasitas yang ada. Kapasitas ini hanya akan diperluas bila tingkat permintaan meningkat yang tentunya membutuhkan waktu.

Ketiga, investasi pada sektor manufaktur masih sangat minim. Secara aggregat nasional, tingkat pertumbuhan investasi masih di bawah tingkat pertumbuhan yang ada sebelum krisis. Hal ini disebabkan oleh masih tersedianya kapasitas peningkatan produksi pada banyak perusahaan. Sehingga tidak mengherankan hanya sedikit yang mengambil inisiatif mengembangkan kapasitas produksi yang ada melalui investasi.

Keempat, masih lemahnya fungsi intermediasi perbankan. Tingkat pertumbuhan kredit perbankan sampai tahun 2006 masih di bawah tingkat yang diharapkan, sebesar 20 persen per tahun. Pertumbuhan ini pun lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan kredit konsumtif, bukannya kredit investasi atau modal kerja.

Kelima, selain kesulitan penambahan modal, peningkatan kapasitas industri manufaktur juga terkendala oleh masalah buruh. Iklim ketenagakerjaan yang ada dewasa ini membuat banyak perusahaan harus berhitung dua kali bila hendak memperkerjakan tambahan buruh. Penyebab dari hal ini adalah mahalnya ongkos berupa uang pesangon yang harus ditanggung perusahaan.

Keenam, struktur industri nasional yang masih sangat tidak kompetitif. Sampai saat ini tingkat konsentrasi empat perusahaan (CR4) pada sektor manufaktur masih berkisar antara 50 persen sampai dengan 60 persen, yang mengindikasikan terpusatnya pembentukan output hanya pada empat perusahaan terbesar.

Tingkat konsentrasi manufaktur yang tinggi berakibat buruk baik pada jangka pendek maupun panjang. Jangka pendek, hal ini menyebabkan cepat memanasnya mesin perekonomian yang kemudian mengakibatkan mudahnya terpicu inflasi. Hal ini disebabkan adanya ketergantungan harga dan produksi suatu industri pada kapasitas segelintir perusahaan. Untuk jangka panjang, struktur yang tidak kompetitif menyebabkan sulit masuknya pemain dan investasi baru dalam satu industri, yang berakibat sulitnya menambah kapasitas produksi dalam jangka panjang.

Dari beberapa bulan terakhir terdapat indikasi perbaikan dari beberapa hal yang di atas. Permintaan terhadap produk manufaktur dari dalam negeri, misalnya, telah nampak pulih seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang perlu diwaspadai adalah permintaan untuk ekspor manufaktur. Pertumbuhan ekspor manufaktur ke depan harus tidak lagi sekedar mengandalkan upah buruh murah. Untuk itu, satu strategi ekspor yang terkait dengan industrialisasi harus segera dikembangkan.

Demikian pula, terdapat indikasi kuat adanya perbaikan tingkat pertumbuhan modal dan penyaluran kredit ke sektor manufaktur dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, pemerintah saat ini tengah berupaya memperbaiki kelemahan aturan pesangon dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tersendiri untuk merevisi masalah ini. Diharapkan PP ini bisa menghilangkan kendala yang dirasakan perusahaan untuk menambah pekerja.

Persoalaan akut yang hingga kini masih ada adalah belum kompetitifnya struktur industri nasional. Di beberapa industri terlihat ada perbaikan. Namun secara umum dikatakan, pemerintah belum memiliki langkah sistematik dan integral untuk memperbaiki tingkat kompetitif domestik industri nasional. Persoalan ini adalah persoalan struktural jangka panjang, namun pemecahannya harus dipikir dan dirembukan sesegera mungkin.


Label:


Selengkapnya..

Ternyata ...

Coba Anda amati, dalam pergaulan sehari-hari di
manapun kita berada, sering tanpa sadar ada satu topik
pembicaraan (baik yang menyangkut diri masing-masing
pembicara maupun orang yang berada di luar pembicara
yaitu sebagai obyek pembicaraan) mengenai kesuksesan
hidup yang telah dicapai.

Kesuksesan hidup yang saya maksudkan dalam
pembicaraan- pembicaraan yang terjadi biasanya berkisar
pada : seberapa tinggi karir/jabatan/ kedudukan yang
dikuasai saat ini, seberapa banyak dan mahal merek dan
tipe mobil yang dimiliki, seberapa bagus dan megah
rumah yang dimiliki, seberapa mahal dan beken tempat
bersekolah anak-anaknya serta seberapa-seberapa yang
lain. Itulah yang biasanya diasosiasikan sebagai
kesuksesan. “Wah.. . hebat ya si Fulan sekarang
mobilnya dah ganti Alphard” , “Si Fulanah
sekarang karir suaminya moncer lho, diangkat jadi
kepala cabang” , “Enak ya Dia, bonus
tahunannya belasan juta” dan sebagainya.

Apakah hal tersebut salah ? Saya tidak dalam kapasitas
menghakimi salah dan benar, tetapi hanya ...

ingin berbagi
perasaan dan sikap hati kita dalam menghadapi situasi
pembicaraan yang seperti itu dalam pergaulan kita
sehari-hari.

Keinginan

Kalau mendengar sesuatu yang sepertinya nyaman, enak
dan mudah yang belum pernah kita rasakan dan miliki,
biasanya kita pasti ingin juga merasakan yang seperti
itu. Menurut saya keinginan itu boleh-boleh saja,
asalkan :

a. Keinginan tersebut harus segera dipotong agar tidak
menjadi khayalan yang menyebabkan kita panjang
angan-angan, sebab situasi yang kita inginkan tersebut
juga tentu ada cobaan di dalamnya yang kita tidak
tahu. Kata orang-orang tua jaman dulu : Urip kuwi
sawang-sinawang, orang lain yang kelihatannya enak
belum tentu demikian, ada masalahnya juga.

b. Keinginan tersebut jangan sampai menyebabkan kita
berkeluh kesah / ngresulo / tidak ridho atas situasi
dan kondisi yang saat ini kita jalani. Karena
bagaimanapun apa yang kita terima dan jalani saat ini
adalah yang terbaik bagi kita yang Allah berikan.
Bukankah setiap detik kehidupan kita adalah
pemberianNya yang harusnya kita syukuri ? Bukankah
rasa syukur kita merupakan wadah untuk menerima nikmat
yang lebih besar dariNya ? Jangan melihat ke atas,
tapi lihatlah ke bawah. Masih banyak saudara-saudara
kita yang hidup jauh di bawah kelayakan.

c. Keinginan tersebut bisa kita jadikan cita-cita yang
harus diiringi juga dengan ikhtiar dalam arti harus
kita siapkan strategi dan tahapan pencapiannya dengan
tidak lupa hati kita berserah kepadaNya. Boleh jadi
keinginan yang menjadi cita-cita tersebut merupakan
pertanda bahwa Allah memang akan menganugerahi kita
sesuai yang kita cita-citakan.

Ternyata

Ini rahasia lho.... jangan bilang siapa-siapa,
orang-orang yang mencapai kesuksesan hidup sebagaimana
yang sering diperbincangkan orang, umpama dari
kalangan militer dia itu jendral, panglima lagi,
umpama dari kalangan pengusaha, dia itu top bangetlah
pokoknya, omsetnya per bulan triliunan rupiah, umpama
dari kalangan trainer, dia itu trainer kelas atas yang
alumni pelatihannya sudah mencapai puluhan ribu orang,
umpama dari kalangan artis sinetron, dia itu tarif per
episodenya mencapai puluhan juta rupiah atau juga dari
kalangan lain yang dianggap sukses dan menjadi standar
kemewahan hidup bagi banyak orang, ternyata akhirnya
mati juga. Jatah ruang dan waktu baginya habis di
dunia ini.

Ternyata... hidup itu menunggu mati.

Ternyata... mati itu berarti kembali, kembali kepada
yang memiliki.

Ternyata... yang memiliki itu Allah.

Ternyata... masa depan kita dan masa depan hidup ini
adalah Allah

Ternyata... cita-cita kita salah jika bukan Allah.

Ternyata... semuanya sia-sia jika tidak dengan Allah.

Ternyata... semuanya sia-sia jika tidak bersama Allah.

Ternyata... semuanya sia-sia jika tidak untuk Allah.

Ternyata... Allah itu sangat sayang pada kita.

Ternyata... Allah sudah siapkan segalanya bagi kita.

Ternyata... Allah saja yang ada yang lain tidak ada
– subhanallah.

Ternyata... Allah juga di balik semua yang ada –
alhamdulillah.

Ternyata... habis sudah kita dihadapanNya.


Label:


Selengkapnya..

Ayat Ayat Cinta

ya,Allah

izinkan kan aku mecintai nya untuk berjuang berbalas surga-Mu
izinkan aku melepas kerinduan dengannya karena keagungan-MU


dan biarkan semua berhembus seperti angin dan mengalir seperti air yang tenang
seiring dengan Ayat-ayat cintamu.....

ya,Allah
sungguh perjuangan ini belum selesai
karena selama ini ku mencari-cari teman yang sejati untuk menemani perjuangan suci
perjuangan karena ridho-Mu

sungguh
dalam setiap malam-malamku
aku bersimpuh,bersujud dan bermunajat kepadamu....
untuk mendapatkan yang terbaik

dan diantara langit dan seisinya .....masih tersimpan keagungan-Mu
dan diantara langit ketujuh kuberharap bisa meraih ridho-Mu bersamanya



Label:


Selengkapnya..

Indahnya Meminta Maaf a la si Kecil

Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf? Setelah ‘berantem' dengan temannya, mungkin Anda hanya mengatakan, "Ayo baikkan!", atau "Ayo minta maaf!" Bisakah mereka melakukannya? Mereka pasti tidak mengerti maksud Anda. Saya punya sebuah pengalaman bahwa mengajari meminta maaf kepada si kecil, bisa berhasil.

Suatu hari, seperti biasa saya memandikan putri saya, Syanita (hampir 3 tahun). Dia masih senang menggunakan bak mandi plastik. Selesai mandi, saya bersihkan baknya. Syanita yang sudah memakai handuk, menunggu saya. Biasanya ia masih bermain dengan bebeknya. Tapi pagi itu saya kaget, karena ia bermain dengan sabun. Tangannya disabuni lagi. Wah, saya kesal. Langsung saya rebut sabunnya dengan kasar. Saya pukul tangannya. Saya basuh tangannya dengan air dingin. Ia kaget. Menangis keras. Saya gendong dia masuk ke kamar.
Mengeringkan badannya dan mendandani seperti biasa. Ia terus meraung-raung, meronta, membuat saya tambah marah. "Nggak boleh main sabun! Jangan nangis! Diem! Cepet pake baju, dingin!" Kata-kata itulah yang keluar dari mulut saya, sementara puri saya terus menangis. Anak saya juga berteriak, "Ibu nakal! Ibu nakal!" Akhirnya saya mengalah. "Iya, ibu nakal!" Biasanya memang seperti itu. Kalau saya sudah mengaku nakal, nangisnya berhenti.

Kejadian pagi itu sudah hilang dari ingatan saya. Tapi, rupanya tidak begitu bagi putri saya. Ia masih ‘dendam'. Ketika diajak tidur siang, dia menolak. Saya paksa dia tidur, dia malah minta jalan-jalan. Tapi saya tidak marah. Disuapi makan sore, malas-malasan. Saya pun tidak marah. Akhirnya ia mau makan. Tapi seharian itu ia memang terlihat uring-uringan, membuat saya sangat cape. Seharian itu ia tidak tidur siang, sehingga saya ingin cepat membuatnya tidur agar istirahatnya cukup. Rencananya, sehabis sholat Magrib saya akan menidurkannya. Setelah selesai sholat, biasanya anak saya akan mencium tangan saya dan saya mendoakannya. Tapi saat itu, anak saya diam saja. Rupanya ia masih ‘dendam' kepada saya. Ia bahkan tidak ikut sholat bersama. Tiba-tiba saya berinisiatif, saya raih tangan mungilnya. Saya cium tangannya dan saya berkata dengan lembut kepadanya. "Ani, maafin ibu ya..., tadi ibu bikin Ani sedih ya? Ani sedih dipukul tangannya sama ibu?" Dia mengangguk lalu memeluk saya. Hmm... saya merasa benar-benar bersalah.

Karena itu saya ulangi lagi meminta maaf kepada anak saya. "Ani maafin ibu ya!" Kali ini dia menangis. Saya gendong Syanita, membaringkannya di tempat tidur. Setelah membuka mukena, saya ikut berbaring di sebelahnya. Ani yang kecapean karena tidak tidur siang rupanya benar-benar sudah ingin tidur. Tapi hatinya baru terasa nyaman setelah ucapan maaf mengalir dari mulut saya. Saya jadi merasa sangat bersalah. Saya tepuk-tepuk pantatnya. Saya tawarin untuk bercerita. Dia mengangguk. Maka saya pun bercerita, dan ia langsung tertidur sambil memeluk saya.

Keesokan harinya entah kenapa anak saya sulit diatur. Pagi-pagi setelah mandi, ia ingin memakai baju piyama. Ia menangis memaksa saya memakaikan piyama. Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa baju piyama untuk dipakai sore sebagai baju tidur akhirnya anak saya menyerah. Tapi ia masih marah-marah. Siang hari Syanita masih membuat saya jengkel karena mau main di luar pada jam tidur siang. Saya tidak memarahinya sama sekali. Saya turuti permintaan ‘aneh'nya hari itu-jalan-jalan di siang hari. Tapi, ia tetap tidur siang, meskipun sudah agak sore. Saya memang menggerutu karena kesal dan mengadu kepada kakeknya soal tingkah laku Syanita. Ketika Maghrib, ia menolak sholat bersama. Tetapi ia memerhatikan sholat saya. Setelah saya selesai sholat, ia lari mendekat dan mencium tangan saya. Lalu ia berkata. "Ibu, maafin Ani ya...!" Saya terperanjat. "Hah, anak sekecil ini meminta maaf dengan cara begini? Dari mana ia belajar bersikap seperti ini?", hati saya bertanya-tanya. Ingatan saya langsung kembali pada peristiwa kemarin. Saya terpana. "Oh, jadi ia ingat kemarin saya meminta maaf dengan cara seperti ini. Dan sekarang ia meminta maaf karena telah membuat saya jengkel sejak pagi sampai sore." Saya tidak bisa menjawab permintaan maaf anak saya. Segera saya peluk Syanita sambil saya ciumi pipinya. "Anak pinter!" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya. Syanita telah belajar meminta maaf dari cara saya meminta maaf yang saya lakukan terhadapnya.


Label:


Selengkapnya..

Rabu, 05 Maret 2008

Enterobacter Sakazakii, Bakteri Pencemar Susu

Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Benarkah temuan yang dilakukan peneliti IPB tersebut? Kalau benar, berbahayakah Enterobacter Sakazakii tersebut pada bayi atau anak? Bagaiamana hal itu bisa terjadi?

Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.

Enterobacter sakazakii
E. sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa Negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar di laporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5>
Proses pencemaran
Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.

Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.

Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.

Antisipasi
Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banayak dan relative mahal harganya.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajianh yang baik dan benar. Diantaranya dalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan “hang time� atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.

Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi kasus luar biasa Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non pathogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apapun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan




Label:


Selengkapnya..